Call.jpg

 

 

Prasangka merupakan salah satu permasalahan sosial klasik yang masih saja terjadi hingga saat ini. Hal ini mendorong peneliti psikologi sosial untuk terus memahami penyebab prasangka dan upaya mengatasinya dengan menggunakan berbagai perspektif. Dr. Idhamsyah Eka Putra adalah salah seorang peneliti psikologi sosial asal Indonesia yang turut mengambil peran penting dalam upaya ini dengan memperkenalkan konsep Meta-Prasangka sebagai prediktor utama yang mempengaruhi prasangka dan rasa benci kelompok. Ia mempublikasikan idenya di Peace & Conflict: Journal of Peace Psychology. Secara singkat Meta-Prasangka menjelaskan bagaimana individu memandang orang lain (sebagai bagian kelompok) memiliki prasangka terhadap yang lain. Setidaknya ada dua proses Meta-Prasangka. Pertama, Ingroup Meta-Prasangka, yaitu ketika anggota kelompok mempersepsikan anggota kelompoknya yang lain memiliki prasangka terhadap anggota kelompok luar (outgroup); Kedua Outgroup Meta-Prasangka, yaitu ketika anggota kelompok mempersepsikan anggota kelompok luar (Outgroup members) memiliki prasangka terhadap anggota kelompok dalam (ingroup). Dari beberapa penelitiannya, mekanisme berpikir atau proses meta-prasangka ini telah memainkan peran kunci dalam mempengaruhi persepsi dan perilaku individu. Secara spesifik, prasangka dan kebencian akan meningkat ketika: (1) Individu berpikir bahwa anggota kelompok lain tidak menyukai mereka, atau (2) ketika individu berpikir bahwa sesama anggota kelompoknya (ingroup members) tidak menyukai anggota kelompok lain (outgroup members: lihat Putra 2014, 2016; Putra & Wagner, 2017).

Sebagai tambahan, hubungan kuat Meta-Prasangka dan Prasangka akan sangat memberikan pengaruh ketika proses tersebut muncul pada anggota kelompok. Jika Meta-prasangka muncul pada non-anggota, bisa jadi meta-prasangka tidak memiliki hubungan dengan prasangka (Putra & Shadiqi, 2023). Di samping itu, dalam perkembangannya, ide meta-prasangka pun kini berkembang menjadi meta-meta prasangka (Livingstone dkk, 2020) dan Meta-kebencian (meta-hate; Putra dkk, 2022).

Pendekatan Human Nature

Di samping Meta-Prasangka, Putra juga menginisiasi human nature perspective sebagai suatu pendekatan psikologis untuk mengurangi kebencian dan prasangka.

Ada tiga perspektif besar yang selalu muncul dalam perdebatan akan sifat dasar manusia, yaitu manusia dasarnya baik, dasarnya jahat, dan manusia dasarnya seperti kertas putih bersih yang artinya alamiah manusia tidak jahat maupun baik.  Namun demikian, Putra percaya bahwa terlepas dari perdebatan abadi mengenai sifat alamiah manusia, Dia berpendapat bahwa dengan mengingatkan sifat dasarnya sebagai baik, individu akan melihat orang yang berlainan kelompok dengannya dengan cara yang lebih positif, dan ini dapat mengurangi rasa benci.

Dalam studi awal yang menggunakan pendekatan human nature ini, Putra menguji apakah pemberian tekanan bahwa sifat dasar manusia adalah baik dan manusia selalu berubah dapat mengurangi efek stigma pada orang yang mendapat label keturunan komunis/PKI. Hasilnya, efek negatif stigma PKI meredam ketika partisipan mengingat bahwa dasar manusia adalah baik (Putra dkk., 2018). Studi-studi berikutnya pun menunjukkan bahwa ketika partisipan mengingat bahwa sifat dasar manusia adalah baik, prasangka terhadap kelompok lain bisa meredam, dan partisipan lebih melihat kelompok lain lebih positif (Putra dkk., 2020). Menariknya, pendekatan human nature pun ternyata bisa meredam efek negatif fundamentalisme agama terhadap kebencian agama; bahwa kebencian hanya akan muncul ketika fundamentalis agama yakin bahwa dasar manusia adalah jahat. Untuk mereka yang percaya bahwa dasar manusia baik, fundamentalis agama tidak ada hubungannya dengan kebencian agama (Putra dkk., 2023).

****

Sekarang, setelah 10 tahun meta-prasangka dan 5 tahun pendekatan human nature, rasanya sudah waktunya mendiskusikan bagaimana kiprah, kontribusi, dan perkembangan konsep meta-prasangka di Indonesia. Untuk itu, kami mengundang akademisi Indonesia, mahasiswa, peneliti, dosen, untuk berkontribusi pada special issue Meta-Prasangka dan Pendekatan Human Nature. Artikel bisa berupa commentary paper, ataupun riset empiris, yang isinya bisa berupa kritik, pengemabangan riset, dan aplikasi serta relevansi riset meta-prasangka dan human nature di Indonesia.


Panduan Submission:

  • 1. Isi Abstrak (250 kata di luar judul dan informasi penulis): Judul, Nama penulis dan afiliasi seluruh penulis, Informasi kontak corresponding author,  Latar belakang (mencakup pertanyaan penelitian), Metode, Hasil Sementara, Diskusi
  • 2. Kirimkan abstrak ke jurnalpsikologisosial@ui.ac.id
  • 3. Deadline pengiriman abstrak: 30 November 2023
  • 4. Pengumuman penerimaan abstrak: 7 Desember 2023 


Referensi: 

Livingstone, A. G., Fernández Rodríguez, L., & Rothers, A. (2020). “They just don't understand us”: The role of felt understanding in intergroup relations. Journal of Personality and Social Psychology, 119(3), 633–656. https://doi.org/10.1037/pspi0000221

Putra, I. E., Mashuri, A., Nurhamida, Y., & Halperin, E., (2023). Beliefs about human nature moderate the association between religious fundamentalism and hate: The case of Muslims in Indonesia.  Journal of Applied Social Psychology, 53(04), 329-340. https://doi.org/10.1111/jasp.12943

Putra, I. E., & Shadiqi, M. A. (2023). Understanding the supporters and opponents of Myanmar’s civil disobedience movement against the military coup in 2021. Community and Applied Social Psychology, 33(2), 483 – 500 https://doi.org/10.1002/casp.2645

Putra, I. E., Mashuri, A., & Nurhamida, Y. (2022). Identifying hate speech in societal context: When psychological factors are more important than contents. Analyses of Social Issues and Public Policy, 22(03), 906-927. https://doi.org/10.1111/asap.12320 

Putra, I. E., Campbell-Obaid, M., & Suwartono, C. (2020). Beliefs about human nature as good versus evil influence intergroup attitudes and values. Peace & Conflict: Journal of Peace Psychology. http://dx.doi.org/10.1037/pac0000469

Putra, I. E., Holtz, P., Pitaloka, A., Kronberger, N., & Arbiyah, N. (2018). Positive essentialization reduces prejudice: Reminding participants of a positive human nature alleviates the stigma of Indonesian communist party (PKI) descent. Journal of Social and Political Psychology, 06, 291-314. https://doi.org/10.5964/jspp.v6i2.794

Putra, I. E., & Wagner, W. (2017). Prejudice in interreligious context: The role of metaprejudice and majority–minority status. Journal of Community and Applied Social Psychology, 27, 226-239. https://doi.org/10.1002/casp.2305

Putra, I. E. (2016). Taking seriously ingroup self-evaluation, meta-prejudice, and prejudice in analyzing interreligious relations. The Spanish Journal of Psychology, 19, 1-9. https://doi.org/10.1017/sjp.2016.48

Putra, I. E. (2014). The role of ingroup and outgroup meta-prejudice in predicting prejudice and identity undermining. Peace and Conflict: Journal of Peace Psychology, 20, 574-579. https://doi.org/10.1037/pac0000068